Aku menulis postingan ini ketika menunggu kapal kayu antar pulau yang sedang membongkar muatannya, kemudian memuat kembali hasil bumi yang akan dibawanya. Maka waktu satu jam menunggu kubunuh dengan membaca buku di teras belakang kantin dermaga, dengan pemandangan khas pelabuhan ; hilir mudik buruh angkat, laut yang sedikit berombak, angin sepoi-sepoi dan alunan daun kelapa sepanjang pesisir.
Bacaanku terhenti ketika seorang anak menangis. Ia terjatuh ketika berlarian di kantin dermaga. Segera ayahnya mengejar, dan sang bunda mencarikan minum untuk si bocah lincah. Hm... keluarga kecil yang punya aktivitas yang sama denganku, menunggu kapal antar pulau berangkat.
Berbagai cara dilakukan si ayah agar balita itu berhenti menangis. Dan Ia berhasil. Maka beberapa menit kemudian si bocah mulai tertawa berceloteh ria tentang kepalanya yang sakit bekas terbentur ubin.
Melihat pemandangan itu, aku menutup bukuku, menulis postingan ini, karena tiba-tiba aku teringat kamu. Kamu yang suka dengan anak kecil, yang menggendong mereka dengan mata berbinar, dan selalu berhasil masuk ke dunia mereka, dunia kanak-kanak yang polos.
Tentang dia adalah sosok yang menyamankan hadirnya memberi warna ketidak-adaannya menyisa rindu ia tak pernah kehabisan cara membuat dunia tersenyum. Dia yang tertawa, bicara, hingga bekerja dengan mata yang berbinar Ia yang begitu antusias membicarakan ide, rencana, mimpi bahkan pendapatnya akan segala mampu membuat saya betah berlama-lama menyimaknya Bersamanya, saya tak kenal kata bosan Dia bisa menjawab segala tanya, memberi pertimbangan bijak, membantu memutuskan tanpa mendikte. Ia tak pernah keberatan mendengarkan kembali cerita yang sama yang bahkan telah saya kisahkan belasan kali. Dia mampu menepis keinginan saya untuk menang sendiri, membendung ambisi saya yang kadang terlalu. Motivator yang tak nyinyir, pelit pujian tetapi selalu tulus dalam berkata, tak romantis tapi selalu ada...
Semesta, saya jatuh cinta padanya! Doakan saya ya!