Kau yang namanya kuselipkan di sudut doa, datanglah! Aku mengajakmu menghitung lembaran mimpi yang tertungkup dalam asa tak pasti Seperti dulu kita pernah menghitung detak nadi, menjumlahkannya dengan rinai kabut pantai subuh hari.
Kita tak pernah berkubang dalam imaji Bagimu, segala yang ada di hadapan itulah kenyataan. Hari ini dan hadapi! Bagiku, masa lalu, kini dan esok adalah jalinan yang menguatkan! Kau mengajarkan realitas, aku memupuknya dalam impian tak berbatas Maka kita adalah orang-orang yang berkelindan dalam pelangi hari Kau dan aku dalam warna warni Kelak, akan kusandarkan padamu segalanya!
Dia : Neng, tanggal cantik mana lagi ya yang bagus untuk tanggal nikahan? Saya : Buat neng, tanggal berapa aja cantik kok bang. Asal nikahnya sama abang!
Aku menulis postingan ini ketika menunggu kapal kayu antar pulau yang sedang membongkar muatannya, kemudian memuat kembali hasil bumi yang akan dibawanya. Maka waktu satu jam menunggu kubunuh dengan membaca buku di teras belakang kantin dermaga, dengan pemandangan khas pelabuhan ; hilir mudik buruh angkat, laut yang sedikit berombak, angin sepoi-sepoi dan alunan daun kelapa sepanjang pesisir.
Bacaanku terhenti ketika seorang anak menangis. Ia terjatuh ketika berlarian di kantin dermaga. Segera ayahnya mengejar, dan sang bunda mencarikan minum untuk si bocah lincah. Hm... keluarga kecil yang punya aktivitas yang sama denganku, menunggu kapal antar pulau berangkat.
Berbagai cara dilakukan si ayah agar balita itu berhenti menangis. Dan Ia berhasil. Maka beberapa menit kemudian si bocah mulai tertawa berceloteh ria tentang kepalanya yang sakit bekas terbentur ubin.
Melihat pemandangan itu, aku menutup bukuku, menulis postingan ini, karena tiba-tiba aku teringat kamu. Kamu yang suka dengan anak kecil, yang menggendong mereka dengan mata berbinar, dan selalu berhasil masuk ke dunia mereka, dunia kanak-kanak yang polos.